10
Jul

small thumb

Balawista Lombok Barat Dipersiapkan Gabung A-PAD

Menjadi seorang baywatch lifeguard atau penyelamat pantai ternyata penuh resiko. Mereka harus berjuang menyelamatkan nyawa orang lain di tengah kondisi alam yang juga mengancam hidupnya.

 

Di Indonesia, profesi ini disebut dengan Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista). Untuk menjadi anggota Balawista, seseorang harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu, khususnya kekuatan fisik dan mental. Setiap calon anggota wajib menempuh ujian fisik dan mental untuk mendapatkan sertifikat keanggotaan Balawista.

 

Ada beberapa aktivitas yang biasanya dilakukan seorang Balawista dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari, antara lain: mengamati keadaan cuaca dan situasi kawasan perairan, menentukan dan memberi tanda tentang situasi aman atau tidaknya bagi para pengunjung, memberi larangan atau memperbolehkan para pengunjung untuk berekreasi di kawasan air, dan yang terpenting memberi bantuan pertolongan kepada para pengunjung yang sedang terancam jiwanya di kawasan wisata tirta tersebut.

 

Di daerah Kabupaten Lombok Barat yang sebagian besar kawasan wisatanya merupakan kawasan wisata pantai, profesi atau keberadaan Balawista yang profesional belum ada sama sekali. Baru hanya sebatas masyarakat yang tinggal di pesisir pantai setempat yang kebetulan kesehariannya bekerja di sekitar pantai.

 

Atas dasar itu, sejak 8 Juli kemarin sampai hari ini, Sabtu (10/7), bertempat di Hotel Montana Premier Senggigi Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Pariwisata  terus meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki, salah satunya Balawista. Para peserta pelatihan ini berasal dari sejumlah kecamatan yang mempunya kawasan wisata pantai seperti kecamatan Batulayar, Sekotong, Lembar, dan Labuapi.

 

Para peserta digeber dengan latihan teori maupun latihan fisik berat yang memang harus dikuasai oleh Balawista. Mulai dari SOP pemberian pertolongan pertama pada korban kecelakaan di air, pengenalan biota air yang beracun, uji ketahanan tubuh, berenang, hingga mengenal jenis-jenis dan penggunaan alat-alat keselamatan air yang sudah biasa digunakan.

 

Pelatihan ini juga nantinya akan menjadi salah satu syarat Balawista Kabupaten Lombok Barat bisa dimasukkan ke dalam sebuah organisasi dunia yang bergerak dalam bidang kebencanaan, yakni Asia Pasifik Alliance for Disaster Management (A-PAD).

 

"Karena bagaimanapun juga posisi kita rentan dengan kebencanaan. Pengalaman tahun 2018 dengan gempa yang bertubi-tubi, di 2019 kemudian kita dihadang lagi dengan covid-19, tentu ini menjadi dasar berpikir bahwa kita harus mampu menciptakan destinasi yang tidak hanya nyaman, tidak hanya indah dan tertib tapi yang terpokok itu adalah aman dan ramah buat semuanya," kata Kepala Dinas Pariwisata lombok Barat, Saepul Akhkam.

 

Terkait eksistensi Balawista di Lombok Barat, Akhkam mengaku akan mencoba mendiskusikan hal ini dengan Basarnas secara Instansional.

 

"Bila instansi lain punya satuan-satuan relawan sampai di level bawah, misalnya ada TRC di BNPB, ada Tagana di Dinas Sosial, ada Pokmaswas untuk kelautan, maka bisa jadi kita akan geret dan kita arahkan teman-teman yang kita libatkan pada pelatihan kali ini untuk menjadi kelompok binaan dari Basarnas, atau BPBD selaku institusi yang memang terlatih untuk hal semacam ini," lanjutnya.

 

Kedepannya imbuh Akhkam, khusus untuk mitigasi kebencanaan juga di angkatan berikut pihaknya akan menyasar lagi tempat-tempat wisata, tempat rekreasi yang ada aspek keamanannya riskan seperti kolam renang dan water park.