20
Nov

small thumb

Pariwisata Adalah Pasar Kebudayaan

Hari ke tiga event Welcome to Senggigi menghadirkan Sarasehan Budaya yang didalamnya membedah video salah satu acara adat Lombok yakni Perang Topat.
Masih belokasi di Aruna Seaview Senggigi, acara kali ini menghadirkan salah satu tokoh inspiratif Fairuz Abadi atau yang akrab disapa Abu Macel, bersama dengannya seorang fotografer dan penggiat film Lombok Ming Muslimin, serta Kepala Desa Lingsar Sahyan sebagai pembicara, Sabtu (20/11/2021).
Selama dua jam lamanya, ke tiga narasumber berdiskusi tentang makna-makna dari video yang menayangkan prosesi-prosesi acara adat Perang Topat yang digelar di Pura Lingsar setiap purnama ke tujuh dalam penanggalan Suku Sasak.
Perang Topat sendiri merupakan salah satu acara adat yang menyiratkan harmonisme masyarakat dalam menjalani kehidupan di tengah perbedaan agama di tanah Lombok.
Acara asat ini kemudian sampai saat ini menjadi event pariwisata budaya tahunan di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang biasanya diadakan pada bulan Oktober dan menjadi salah satu atraksi wisata penyedot wisatawan le daerah Lobar.
Berbicara mengenai pariwisata, Fairuz Abadi mengibaratkannya bahwa pariwisata merupakan sebuah pasar, dan semua isi di dalam pasar itu adalah kebudayaan.
"Seluruh konten atau benda yang ada di dalam pasar bernama pariwisata itu adalah kebudayaan, di dalamnya ada pelestarian, perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan, semua itu dari peristiwa kebudayaan," ujar Fairuz.
"Seperti yang kita lakukan hari ini, musik, menari, talk show itu semua peristiwa kebudayaan," lanjutnya.
Yang terpenting menurutnya sekarang ini adalah bagaimana cara mengemas konten-konten kebudayaan yang ada di Lombok Barat itu menjadi peluang-peluang pariwisata untuk mendatangkan para tamu agar menjadi magnet ekonomi.
Sementara itu Ming Muslimin menyampaikan tentang pentingnya video dalam mengenalkan pariwisata daerah.
"Banyak orang tidak sadar peran video ini yang menyampaikan informasi begitu cepat, karena dari video itu ada audio dan visual," kata Ming.
Dari kemampuan orang mendengar dan melihat, apa yang disampaikan sebuah video menurutnya bisa 85 persen sampai kepada penontonya.
"Jadi saya rasa video itu sangat efektif sebagai media promosi pariwisata)," ujarnya.
Untuk ke depan ia berharap para konten kreator bisa membuat video kepariwisataan dan budaya yang lebih kreatif dan yang terpenting informatif.
"Jangan hanya menampilkan keindahan visual saja tapi tidak informatif," tandasnya.
Acara ini juga dirangkai dengan pemberian penghargaan kepada insan media yang dinilai telah membantu kebangkitan pariwisata Lombok Barat sejauh ini, dari media TV, media cetak hingga media online.