"MALEAN SAMPI", BUDAYA AGRARIS YANG JADI EVENT PARIWISATA LOMBOK BARAT

Foto untuk : "MALEAN SAMPI", BUDAYA AGRARIS YANG JADI EVENT PARIWISATA LOMBOK BARAT
Share

Puluhan ekor Sapi dihiasi dengan beragam ornamen berjajar di depan Kantor Desa Selat, Kecamatan Narmada, Minggu (15/3). Sementara di ruas jalan depan kantor Desa itu, ratusan masyarakat nampak sumringah berkumpul bersama suara tawa gembira anak-anak.

"Ada malean sampi. Tradisi khas masyarakat di sini," kata Suparwandi, seorang warga Desa Selat.

Malean Sampi merupakan tradisi budaya masyarakat agraris, mirip karapan Sapi di Jawa atau Barapan Kebo di Sumbawa. Di mana dua ekor Sapi disatukan dengan tonggak kayu, kemudian beradu cepat di arena lomba.

Desa Selat yang masyarakatnya umumnya petani, masih mempertahankan tradisi ini. Bahkan beberapa tahun belakangan, atraksi budaya petani dan peternak ini menjadi bagian dalam kalender event Pariwisata Lombok Barat.

Sebagian masyarakat petani di Desa Selat dan beberapa Desa di Kecamatan Narmada masih menggunakan ternak Sapi untuk keperluan membajak sawah sebelum musim tanam padi.

Dari Kantor Desa Selat, pawai budaya mengiringi sapi-sapi peserta Malean Sampi, menuju arena pertandingan, lahan sawah pra-taman yang berisi air selutut orang dewasa.

Kelompok seni gendang beleq dan sekelompok pria dan wanita dengan busana khas petani nusantara memeriahkan pawai budaya itu.

Kepala Desa Selat, Sabudi mengatakan, secara tradisi budaya Malean Sampi merupakan wahana silahturahmi antar para petani dan peternak. Secara turun temurun, event budaya ini juga menjadi wujud kesyukuran para petani atas hasil panen sebelumnya.

"Event Malean Sampi tahun ini diikuti sekitar 47 pasang Sapi. Umumnya peserta berasal dari sejumlah Desa di Kecamatan Narmada dan Kecamatan Lingsar," katanya.

Kemeriahan memuncak ketika puluhan pasang Sapi mulai bertanding. Para penonton bukan hanya masyarakat setempat tapi juga dari Kota Mataram.

Event Malean Sampi di Desa Selat, Minggu (15/3) juga dihadiri Camat Narmada, jajaran Muspika, dan para anggota DPRD Lombok Barat Dapil Lingsar dan Narmada. Sejumlah wisatawan juga terlihat mengabadikan gambar dalam kegiatan tersebut.

Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid mengapresiasi inisiatif masyarakat Desa Selat yang menggelar kegiatan budaya ini secara mandiri dan konsisten.

Menurutnya, atraksi seni dan budaya lokal seperti ini merupakan inovasi Desa yang harus terus dipertahankan sebagai upaya memajukan sektor pariwisata di Lombok Barat.

"Tentu dengan tetap melestarikan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat petani peternak khususnya," kata Fauzan.

 

Puluhan ekor Sapi dihiasi dengan beragam ornamen berjajar di depan Kantor Desa Selat, Kecamatan Narmada, Minggu (15/3). Sementara di ruas jalan depan kantor Desa itu, ratusan masyarakat nampak sumringah berkumpul bersama suara tawa gembira anak-anak.


"Ada malean sampi. Tradisi khas masyarakat di sini," kata Suparwandi, seorang warga Desa Selat.

Malean Sampi merupakan tradisi budaya masyarakat agraris, mirip karapan Sapi di Jawa atau Barapan Kebo di Sumbawa. Di mana dua ekor Sapi disatukan dengan tonggak kayu, kemudian beradu cepat di arena lomba.

Desa Selat yang masyarakatnya umumnya petani, masih mempertahankan tradisi ini. Bahkan beberapa tahun belakangan, atraksi budaya petani dan peternak ini menjadi bagian dalam kalender event Pariwisata Lombok Barat.

Sebagian masyarakat petani di Desa Selat dan beberapa Desa di Kecamatan Narmada masih menggunakan ternak Sapi untuk keperluan membajak sawah sebelum musim tanam padi.
 

Dari Kantor Desa Selat, pawai budaya mengiringi sapi-sapi peserta Malean Sampi, menuju arena pertandingan, lahan sawah pra-taman yang berisi air selutut orang dewasa.

Kelompok seni gendang beleq dan sekelompok pria dan wanita dengan busana khas petani nusantara memeriahkan pawai budaya itu.

Kepala Desa Selat, Sabudi mengatakan, secara tradisi budaya Malean Sampi merupakan wahana silahturahmi antar para petani dan peternak. Secara turun temurun, event budaya ini juga menjadi wujud kesyukuran para petani atas hasil panen sebelumnya.

"Event Malean Sampi tahun ini diikuti sekitar 47 pasang Sapi. Umumnya peserta berasal dari sejumlah Desa di Kecamatan Narmada dan Kecamatan Lingsar," katanya.
 

Kemeriahan memuncak ketika puluhan pasang Sapi mulai bertanding. Para penonton bukan hanya masyarakat setempat tapi juga dari Kota Mataram.

Event Malean Sampi di Desa Selat, Minggu (15/3) juga dihadiri Camat Narmada, jajaran Muspika, dan para anggota DPRD Lombok Barat Dapil Lingsar dan Narmada. Sejumlah wisatawan juga terlihat mengabadikan gambar dalam kegiatan tersebut.

Bupati Lombok Barat, H Fauzan Khalid mengapresiasi inisiatif masyarakat Desa Selat yang menggelar kegiatan budaya ini secara mandiri dan konsisten.

Menurutnya, atraksi seni dan budaya lokal seperti ini merupakan inovasi Desa yang harus terus dipertahankan sebagai upaya memajukan sektor pariwisata di Lombok Barat.

"Tentu dengan tetap melestarikan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat petani peternak khususnya," kata Fauzan.
 

Ia menjelaskan, saat ini Dinas Pariwisata Lombok Barat mulai menginventarisir potensi-potensi pariwisata di masing-masing desa yang bisa dijadikan event menarik untuk bisa menarik minat wisatawan berkunjung ke Lombok Barat.

Fauzan mencontohkan, bagaimana tradisi "Manoang" atau mengantar makanan ke sawah bagi keluarga yang bekerja di sawah yang masih lestari di Desa Selat.

"Tradisi Manoang ini harus dilestarikan karena merupakan peninggalan orangtua terdahulu. Ini juga bisa menjadi ikon atraksi wisata kita, karena di zaman modern saat ini tradisi seperti ini sudah mulai menghilang," kata Fauzan.

sumber : www.iniholiday.com

Sambutan
BADAN PUSAT STATISTIK KABUPATEN LOMBOK BARAT
PPID KAB.LOMBOK BARAT
DISKOMINFO KAB.LOMBOK BARAT
HUMAS KAB. LOMBOK BARAT
PEMKAB LOBAR