08
Des

small thumb

Perang Topat 2023

Setelah hampir dua tahun vacum atau tak digelar akibat pandemi Covid-19, prosesi Perang Topat kembali digelar di Taman Pura Lingsar Lobar, Kamis (8/12). Tak ayal, prosesi yang dijadikan sebagai simbol perdamaian antar umat beragama itu dipadati pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat.

 

Pemangku Adat Pura Kemalik Lingsar, Suparman Taufiq mengatakan Ritual budaya Perang Topat adalah, suatu upacara ritual yang merupakan pencerminan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan kemakmuran dalam bentuk kesuburan tanah, cucuran air hujan dan hasil pertanian melimpah.

 

Upacara ini dilaksanakan di Taman Lingsar oleh umat Hindu bersama-sama dengan suku sasak, yaitu dengan cara saling melempar topat (ketupat) antara peserta yang satu dengan yang lainnya.

 

Perang Topat dilakukan pada sore hari yakni saat Raraq kembang Waru (bergugurnya kembang waru), biasanya selepas waktu salat Asar bagi umat Islam. Sebelum prosesi perang topat dimulai, ada serangkaian upacara adat diikuti ratusan warga desa.

 

Acara juga dimeriahkan oleh pagelaran Atraksi Presean selama tiga hari yang dikoordinir oleh Sanggar Linggar Jati Lingsar dan aneka hiburan rakyat seni budaya.

 

Kegiatan dimulai dengan kegiatan Pembersihan yang dilakukan oleh Umat Sasak dan Umat Hindu di halaman Taman Lingsar dan Area Ritual Religi/Persembahyangan. Umat Muslim Sasak dan Umat Hindu juga bersama-sama memasang Abah-Abah/prasarana upacara di Pelataran Kemaliq dan di seluruh unit Pura.

 

Sementara itu di Pejeroan/Rumah Mangku Adat Sasak, puluhan Umat Sasak membuat Kebon Odeq.

 

Gambaran keharmonisan umat beragama bisa disaksikan sebelum puncak Perang Topat dimulai dengan ritual Ngeliningan Kaoq/Kebo (mengarak kerbau) usai umat Hindu melaksanakan Mendak Betara.

 

Dalam ritual ini, tokoh agama dari perwakilan umat Muslim dan Hindu bersama-sama memegang tali dan mengarak kerbau mengelilingi pura sebelum disembelih.

 

Kerbau dipilih sebagai bentuk penghormatan umat kedua agama karena tidak mengonsumsi hewan babi dan sapi. Untuk ritual tidak boleh ada unsur pemotongan babi untuk menghormati umat islam. Sebaliknya umat islam tidak memotong sapi, namun kerbau untuk menghargai yang hindu. Sebab sapi binatang suci. Disinilah toleransi.

 

Dipimpin para pemangku adat, Umat Sasak Muslim bersama Umat Hindu kemudian jalan beriringan membawa puluhan Dulang Pesaji atau wadah berisi sesaji, kebon odek (nampan besar berisi aneka hasil bumi yang tersusun rapi), dan ribuan topat yang dinaungi payung agung warna merah, kuning, dan putih.

 

Diringi suara gendang beleq (kendang besar), tawaq-tawaq (gong), ceng-ceng, pareret (terompet kayu), dan cungklik, mereka kemudian memasuki area Kemaliq dan melaksanakan Ngaturan Pesaji.

 

Usai upacara, perang topat pun dimulai saat Bupati Lombok Barat selaku pimpinan daerah melakukan lemparan ke halaman tengah pura.

 

Ribuan topat dalam wadah sudah lebih dulu dibagikan kepada peserta "perang".

 

Warga Sasak Muslim yang berdiri di halaman bangunan Kemaliq dan kerumunan warga Hindu di pelataran Pura Gaduh kemudian berperang (saling lempar topat).

 

Ketupat yang telah digunakan untuk berperang seringkali diperebutkan, karena dipercaya bisa membawa kesuburan bagi tanaman agar hasil panen bisa maksimal.

 

"Perang Topat ini warisan leluhur untuk mengajari kita bagaimana bersikap terhadap perbedaan, dan bersikap terhadap pluralitas. Perbedaan bukan untuk diperdebatkan, bukan untuk dipertengkarkan, itu hukum alam. Tidak ada artinya tengkarkan perbedaan. Yang harus dilakukan adalah berusaha untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan.

Melalui Prosesi Perang Topat ini diharapkan agar Suku Sasak dan Suku Bali, atau umat Islam dan Hindu lebih direkatkan tanpa perdebatkan perbedaan. Itu yang harus kita jaga bersama," jelas Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid.