Event tradisi budaya dan religi Perang Topat 2025 untuk kali ketiga kembali meraih piagam penghargaan sebagai salah satu event dalam Karisma Event Nusantara (KEN) dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Pencapaian ini semakin memotivasi Bupati Lombok Barat (Lobar) Lalu Ahmad Zaini (LAZ) untuk menjadikan Perang Topat menjadi event berskala lebih besar lagi.
Menurutnya, pelaksanaan event berskala besar akan membuat efek yang juga besar kepada daerah. Terlebih LAZ sangat menekankan setiap event yang digelar di Lobar harus memberikan efek peningkatan ekonomi lokal dan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehingga pelaksanaan event Perang Topat tahun ini akan dievaluasi pihaknya, agar di tahun depan event itu dipersiapkan jauh hari sebelum digelar.
"Kalau ke depan kita kemas jauh hari sebelumnya sudah kita promosi sehingga orang datang ke sini untuk ikut menyaksikan, terus menginap di sini tiga hari, tiga hari berbelanja, kan akan membawa dampak kepada peningkatan PAD. Itu yang kita harapkan," jelasnya.
Dengan strategi inovatif dan komitmen yang kuat, Lobar siap menjadikan Perang Topat sebagai ikon toleransi yang mendunia, sekaligus menempatkan warisan leluhur sebagai aset utama dalam pembangunan daerah. Sebagai langkah konkret, Pemda berencana mengundang tokoh-tokoh penting dan pemangku kepentingan agama di tingkat pusat.
"Bila perlu Kementerian Agama kita undang, hadir, menyaksikan bahwa toleransi itu seperti ini. MUI, pengurus-pengurus agama itu pada level pusat, supaya ini loh bentuk toleransi yang harus kita pelihara," terangnya.
Seperti diketahui event tradisi Perang Topat di kompleks Pura Lingsar yang digelar Pemkab Lobar setiap tahun bukanlah sekadar tontonan. Tetapi merupakan warisan luhur yang secara nyata menampilkan harmoni dan kerukunan abadi antara umat Muslim Suku Sasak dan Umat Hindu Suku Bali di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dilaksanakan bertepatan dengan momen Pujawali Pura Lingsar atau pada penanggalan Sasih Keenam (bulan keenam) kalender Sasak, tradisi ini selalu menarik ribuan pengunjung lokal maupun mancanegara. Perang Topat tahun ini menyedot ribuan pengunjung, tidak saja lokal tetapi wisatawan asing dari berbagai negara. Di sejumlah kursi penonton terlihat wisatawan mancanegara dari Australia, Belanda, Latvia, Malaysia, dan lainnya.
Perang Topat menjadi salah satu rangkaian dari prosesi panjang yang memakan waktu hingga sepuluh hari, melibatkan berbagai unsur budaya dan agama. Beberapa prosesi kunci yang menonjolkan akulturasi antara lain Roah Gubug yakni kegiatan doa dan zikir yang dipimpin oleh tokoh agama, memohon kelancaran seluruh rangkaian acara. Kemudian Negelingan Kaoq (Menggiring Kerbau), dimana prosesi unik ini menjadi simbol penghormatan bersama antara umat Islam dan Hindu. Dan puncaknya adalah Pujawali, yakni Sembahyang bersama oleh umat Hindu di Pura Lingsar, yang dilakukan bertepatan dengan hari Perang Topat, diiringi kesenian tradisional seperti Gendang Beleq.
Selain nilai persaudaraan, ketupat yang digunakan dalam perang dipercaya membawa berkah dan keselamatan serta dapat menyuburkan tanaman bagi petani anggota Subak. Inilah wujud kearifan lokal yang mengikat spiritualitas, budaya, dan mata pencaharian masyarakat. Simbolisme topat yang dilempar menjadi pengingat konkret bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan dalam harmoni dan solidaritas, suatu pelajaran yang relevan bagi bangsa.
Email tidak akan di publikasi. Field yang harus diisi ditandai dengan tanda *